47301de23ab7f07fde6014e562ca03ed_400x400
Rian Mantasa Salve

Hanya di semester enam, IPK nya tidak benar-benar bulat. Sisanya, di semester satu, dua, tiga, empat, lima, dan tujuh, indeks prestasi Aktivis Dakwah Kampus UNS asal Pati ini berada tepat di angka 4.00! Maka tak heran, rekan-rekannya kini menjulukinya ‘Sang Professor’.

Bukan hanya itu, pemuda berkacamata yang menjadikan stasiun, terminal, tangga proyek hingga meja laboratorium hidrolika sebagai tempat tidur favoritnya ini adalah penerima salah satu beasiswa paling bergengsi di kalangan mahasiswa, Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa.

Beberapa kali dia juga menyabet penghargaan tingkat nasional di bidang yang dia tekuni saat ini, Teknik Sipil. Dia juga merupakan Runner Up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik UNS. Selama di kampus, dia mendapat julukan “The King of Asdos” atau Raja Asdos (Asisten Dosen) karena menjadi asisten dosen hampir di semua mata kuliah! Menariknya, pemuda yang dulu –semasa SMA- pernah sangat membenci Kerohanian Islam (Rohis) dan menganggap Rohis sebagai sarang teroris ini, kini justru aktif di Lembaga Dakwah Kampus dan menjadi pengurus inti di dalamnya. Dia ingin membayar kesalahan yang dia buat selama ini -yang telah menganggap Rohis atau semisalnya sebagai tempat yang sangat mengerikan- dan menunjukkan kepada dunia bahwa Lembaga Dakwah Kampus adalah rumah paling tepat untuk melahirkan prestasi dan karya-karya besar.

Menarik untuk mengikuti perjalanan ‘Professor’ Rian Mantasa Salve (ini namanya imut banget ya) yang punya hobi foto selfie ini. Mari kita undang beliau di tengah-tengah kita @FsdkIndonesia.

Please Welcome, Mas Professor…

Ajaib Sejak Ingusan

Mantas tidak suka saya sebut sebaagai bocah ajaib. Tapi, ya memang begitu faktanya. Hehe. Bagaimana tidak, keistimewaan yang dia miliki sudah dia tunjukkan sejak masih imut-imut. Saat itu dia belajar di sebuah Taman Pembelajaran Qur’an atau TPQ. Disana dia belajar  membaca iqro’, lalu berlanjut belajar al-qur’an, tajwid dan gharib. Mantas kecil -dengan kecerdasan yang dia miliki-, berhasil melangsungkan wisuda saat baru menginjak kelas 3 SD. Padahal untuk ukuran anak-anak yang lain, mereka baru diwisuda saat berada di kelas 6 SD atau SMP. Praktis, Mantas melakukan akselerasi 4 tahun!

Prestasi akademiknya di Sekolah Dasar juga jangan ditanya lagi. Banyak orang  yang mengurungkan impiannya untuk mendapat ranking satu setelah melihat Mantas berada disampingnya. Pokoknya jika ada Mantas, jangan tanya lagi siapa yang mendapat ranking satu. 

Memasuki SMP, “kegilaan” calon professor ini semakin menjadi. Dengan modal prestasi yang mentereng saat SD, dia berhasil masuk ke SMPN 3 Pati yang merupakan sekolah terbaik di Kabupaten Pati. Disana, dia masuk ke kelas IMERSI, kelas paling istimewa. Awalnya dia merasa minder dengan pergaulan di kelas IMERSI yang mayoritas adalah anak-anak kota (Mantas sendiri terpaksa in de kos karena jarak rumahnya yang di desa ke SMPN 3 adalah 39 km), namun karena semangatnya yang terus menggebu, dia bukan hanya bisa beradaptasi, tapi justru menjadi raja di kelas IMERSI. Dengan sistem pembelajaran yang memakai bahasa pengantar  bahasa inggris, tentu kelas IMERSI terkesan sangat angker bagi yang lain. Tapi lain halnya dengan Mantas. Di semester 1 dan 2, ujian semester bahasa inggrisnya berturut-turut mendapat nilai 98,5 dan 100. Sempurna! Maka tak heran, anak desa ini menjadi primadona di sekolahnya. Memang benar, ini bocah adalah bocah ajaib!

Diusir dari kost-an dan Kebencian Terhadap Rohis

Ada yang menarik –kalau kita tidak mau menyebutnya memalukan- dari perjalanan hidup Rian Mantasa. Jadi waktu kelas 8 SMP, anak desa ini akhirnya mengenal dunia yang lebih luas. Dia kenal dengan bermacam-macam orang, dengan pergaulan yang tentu sangat beragam. Nah, karena masih cupu, dia tidak bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan mana yang buruk. Akhirnya dia terjebak dalam pergaulan yang tidak beres. Dia sering kongkow-kongkow nggak jelas sampai jam 1 pagi. Itu tidak hanya berlangsung satu dua hari, tapi bertahun-tahun. Setiap kali ditanya ibu kos, dia menjawab dengan enteng “belajar kelompok”. Hingga suatu waktu, di beberapa hari menjelang ujian nasional SMP, sang ibu kos yang lagi-lagi memergoki Mantas pulang jam 1 pagi tidak lagi percaya dengan omongan Mantas. Dia naik pitam! Dini hari itu juga, Mantas diseret ke sekolahan, dihadapkan dengan satpam dan 2 guru BP yang kebetulan tinggal di sekolah itu. Di malam yang dingin itu, Mantas dipaksa mengakui kebohongan yang selama ini dia sembunyikan. Tangis penyesalan pecah dari pelupuk matanya. Dan yang membuat Mantas lebih menyesal adalah karena saat itu, justru sang guru BP yang sangat dia hormatilah yang memintakan maaf untuk Mantas.

Namun beruntung, Mantas berhasil membayar kesalahannya ini dengan sebuah torehan yang sangat membanggakan: mendapatkan NEM terbaik Se-Jawa Tengah dengan nilai matematika 10.00! Bahkan prestasi ini diliput oleh beberapa media cetak. Setidaknya, pengorbanan guru BP-nya malam itu terbayar dengan kebanggan yang dia hadiahakn kepada beliau.Untung otak elu encer, prof..

Memasuki SMA, ternyata Mantas tidak bisa terbebas begitu saja dengan pergaulan SMP nya. Dia masih berkawan dengan rekan-rekan yang dulu sering mengajaknya kongkow-kongkow. Dan dari mereka, dia mendapat sebuah paradigma tentang Rohis. Paradigma itu berbunyi “Rohis dan mentoring itu sesat! Kamu jangan dekat-dekat sama Rohis!”

Waktu cerita ke saya, doi bilang “Aku terjebak sama pemikiran sempit itu. Karena banyak yang bilang Rohis dan mentoring itu sesat, aku jadi kemakan omongan mereka. Padahal sejak dari kelas X aku tinggal satu kos sama mas-mas Rohis yang mereka semua sering ikut olimpiade sains. Mereka pinter-pinter dan baik banget sama aku. Tapi kebaikan-kebaikan mereka ketutup gara-gara aku udah kemakan omongan orang lain. Bodo banget emang. Dan aku benar-benar menyesal kenapa dulu aku nggak ikut Rohis.”

Dia lantas menceritakan awal dari perubahan paradigma nya tentang Rohis “Aku punya temen deket. Di akhir SMA, kita pernah ngobrol panjang lebar. Ngalor ngidul kesana kemari. Nah, dari obrolan itu aku tersadar. Aku aja belum pernah ikut Rohis, bagaimana bisa aku menilai buruk terhadap Rohis? Dan kemudian, hidayah itu datang. Hehe. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membayar kesalahan yang telah aku perbuat ini!”

Dia juga mengatakan –ini yang membuat saya merinding- “Jadi sekarang kalau ada yang bilang Rohis sesat, mentoring sesat, mereka harus berhadapan sama aku dulu.”

Segudang Kesibukan dan LDK Sebagai Tempat Berpulang

Bertekad untuk membayar segala kesalahan, Mantas membuktikan diri dengan ikut salah satu UKM yang justru tidak direkomendasikan oleh kakak tingkatnya, Lembaga Dakwah Kampus. Atau di Fakultas Teknik UNS dia menyebutnya Sentra Kegiatan Islam (SKI).

“Semua UKM yang aku ikuti di semester satu itu adalah rekomendasi kakak tingkat, kecuali satu, SKI. Tapi justru disana aku menemukan kebahagiaan. Di semester-semester berikutnya, saat semua kerjaan udah numpuk, SKI atau lembaga Dakwah Kampus bener-bener jadi rumah buat kembali. Saat udah capek dengan semua permasalahan, LDK bener-bener ngasih nutrisi yang bisa bikin aku semangat lagi. Pokoknya kalau lagi capek, aku pengennya main sama anak SKI. Bodo amat mau kemana yang penting main sama mereka. Gatau kenapa, seneng aja rasanya kalau lagi bareng-bareng sama mereka. Beban-beban yang selama ini numpuk tiba-tiba luntur. Benar-benar tempat kembali yang nyaman. Ketemu mereka itu sama artinya dengan ketemu sama kebahagiaan. Pokoknya, LDK itu sesuatu banget.”

Mau tahu bagaimana sibuknya seorang Mantas?

 “Jadi waktu itu, pas aku jadi ketua Biro AAI (mentoring) Fakultas Teknik, pas banget sama aku lagi magang proyek di jogja. Waktu itu juga aku lagi megang banyak asisten dosen. Jadi asdos di banyak mata kuliah. Aku nggak mau ngorbanin akademik, tapi aku juga nggak mau ngorbanin organisasi. Jam 2 pagi aku harus udah bangun, ngerjain tugas, deadline asisten dosen. Terus jam 6 pagi udah harus berangkat ke jogja, muterin proyek-proyek sambil kepanasan sampek jam satu siang. Begitu nyampek solo, rapat-rapat langsung menanti. Udah gitu, adek-adek tingkat juga udah pada tanya, mas bisa konsultasi jam berapa? Karena nggak cuma satu mata kuliah yang harus aku cover dan karena nggak ada waktu selain malem, akhirnya jadwal konsultasi itu bisa sampai jam 1 pagi. Ya Allah.. Kadang stres banget. Harus tidur jam satu dan bangun lagi jam dua. Rasanya Cuma pas sholat aja aku bisa istirahat. Tidur setengah jam, sejam, udah alhamdulillah banget. Waktu itu tempat tidur favoritku adalah bus, kereta, stasiun, terminal, tangga proyek, sampai meja lab hidrolika. Bahkan sering adek-adek mahasiswa yang mau minta konsultasi, mereka ngantre di luar lab karena nungguin aku yang ketiduran di atas meja lab. Haha. ”

Awal Kecemerlangan

Memulai kehidupan kampusnya sebagai aktivis dakwah kampus, Mantas membuktikan bahwa saat kita bergabung dalam kereta dakwah, semua urusan dunia dan impian-impian kita –atas izinNya- justru akan mudah kita gapai.

Sebelum menjadi asisten dosen, Mantas terlebih dulu menjadi Asisten Agam Islam, atau kita akrab menyebutnya sebagai “kakak mentoring”. Pasca itu, di semester yang sama, Mantas menjadi asisten fisika dasar dan fisika terapan. Hal ini berlanjut ke semester-semesster berikutnya, hingga dia mendapat julukan “The King of Asdos”. Sebagai contoh, di semester tujuh dia menjadi asisten di tujuh mata kuliah! Apa saja? Hidrolika, hidrolika dan saluran terbuka, mekanika fluida dan jaringan perpipaan, struktur beton, struktur kayu dan alaisis struktur dengan metode matriks! Hebat bener kan?

Dan yang lebih mengagumkan, di semester-semester tersebut dia sedang memegang amanah dakwah dengan jam terbang yang sangat tinggi: koordinator fakultas Biro Asistensi Agama Islam, atau ketua mentoring Fakultas Teknik! Bayangkan, dengan kesibukan dakwah yang tinggi, dia masih sempat menjadi asisten dosen di berbagai mata kuliah, yang tidak jarang memaksa dia memberikan konsultasi kepada adik tingkat sampai jam 1 pagi.

Tidak berhenti disana, kecemerlangan Mantas terus berlanjut hingga dia menjadi juara III dalam lomba Desain Kawasan Navigasi Sungai di Universitas Hasanuddin Makassar. Karya tulisnya yang lain juga pernah lolos ke dalam top 10 Finalis dalam lomba Green Innovation yang diselenggarakan Univeritas Riau. Mengikuti prestasi yang lainnya, pada tahun 2014 Mantas memperoleh predikat sebagai runner-up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Dan yang terakhir, dia menjadi satu diantara 8 penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.  

Saat ini, Mantas sedang mewakafkan dirinya untuk ngopenin Biro AAI (Mentoring) Tingkat Universitas sebagai kepala departmen pengelolaan peserta asistensi dan kaderisasi. Dia juga sedang memperbaikai IPK nya di semester enam yang “hanya” 3,98 agar bisa sempurna menjadi 4.00 saat lulus nanti. Kita doakan Calon Sarjana Teknik Sipil ini bisa lulus dengan IPK bulat 4.00 yak..

Terkahir, apa pesan Mantas untuk kita sobat muda @FsdkIndonesia?

“Teruslah berada di sana, di Lembaga Dakwah Kampus. Berikan yang terbaik untuknya, dan lihatlah, hanya soal waktu untuk mendapatkan apa yang selama ini kita impikan. Hidup adalah pilihan. Pada akhirnya, jika kita memilih menjadi penggerak dakwah kampus, maka setiap langkah kita adalah pengorbanan, setiap goresan pena adalah pengabdian, dan setiap detak jantung yang membuat kita masih bernafas menandakan bahwa tanggung jawab kita belum usai. Maka, teruslah bergerak, dan menggerakkan yang lain dalam kebaikan!”

Sobat muda @FsdkIndonesia.. Semoga kita menjadi bagian dari rangkaian inspirasi-inspirasi yang membuat negeri ini terus melaju menuju puncak kejayaannya, seperti Mantas dan para aktor “LDK.Saya!” lainnya. Maka, teruslah hidup dan teruslah menginspirasi!

Terimakasih kepada:

Rumah besar @FsdkIndonesiaFSLDK Indonesia,  dan Fsldkindonesia.org

Aktor LDK.Saya! @RianMantasaSP

Penulis @densyukri

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

#LDK.Saya!

Edisi sebelumnya:

http://fsldkindonesia.org/syayma-sebuah-mahkota-untuk-orangtuanya/

http://fsldkindonesia.org/puguh-adk-penjelajah-nusantara/

Advertisements