Ada satu kisah menarik dari seorang teman saya. Dia berasal dari keluarga yang sangat mampu waktu itu. Ketika kelas 1-2 SMK, teman saya ini bukan orang yang religius, bahkan cenderung kurang taat dalam beribadah. Dia Muslim. Hidup begitu berkecukupan selama itu, tiba-tiba kabar buruk datang. Ayahnya kena tipu dalam bisnis. Uang dengan jumlah besar hilang. Bisnis ayahnya pun akhirnya tidak berjalan baik, dan harus mulai dari awal lagi. Dia pernah cerita ke saya tentang kesulitan keuangan di keluarganya. Bahkan sampai orangtuanya pusing dan stress.

Hingga ketika di pertengahan tahun kedua di SMK, saya kaget, teman saya itu jadi rajin beribadah. Ayahnya juga jadi rajin beribadah. Dia jadi mudah menerima nasihat yang isinya anjuran ibadah, terutama shalat. Padahal sebelumnya dia agak sulit nerima nasihat-nasihat seperti itu. Di tengah kesulitan ekonomi, ternyata mereka larinya ke Allah. Luar biasa, saya bilang. Akhirnya semenjak itu, ibadah terutama shalat teman saya itu, saya lihat menjadi semakin rajin, diajak shalat langsung jalan. Saya berpikir, luar biasa sekali keluarga ini, dari biasanya agak hedon hidupnya dan kurang dekat dengan agama, ketika dilanda kesulitan ekonomi, ternyata mereka larinya langsung ke Allah, bukan terpaku mikirin duit buat usahanya balik. Luar biasa. Dalam hati saya bilang, ini ternyata caranya Allah buat ngingetin keluarga ini biar taat beribadah, biar inget sama Allah.

Teman-teman sekalian, cara Allah mengingatkan tiap manusia itu berbeda-beda. Tergantung kualitas iman manusianya. Ada yang cuma Allah kasih kecelakaan kecil di jalan, dia langsung instropeksi diri, langsung bertaubat atas dosa-dosanya. Ada juga yang usahanya harus dibuat bangkrut dulu biar dia inget sama Allah. Ada juga yang harus dikasih sakit keras dulu, baru taubat dan minta ampun sama Allah. Dan banyak lagi lainnya, sangat beragam. Uniknya, semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin cepet dia sadar atau semakin cepet dia taubat dan instropeksi diri kalau diberi cobaan. Semakin rendah kualitas imannya, semakin lama juga dia sadar untuk taubat. Contohnya siapa? Lihat Fir’aun. Raja yang mengaku sebagai Tuhan ini, baru mau taubat pas nyawa udah di ujung leher.

Teman-teman maka coba dilihat kembali kualitas iman kita. Seberapa tinggi kualitasnya. Seberapa cepat kita sadar untuk bertaubat, ketika Allah berikan cobaan terhadap kita. Ada yang bilang, “Hidup saya tenang-tenang aja mas, ga ada cobaan, berarti iman saya bagus ya.” Eh, kata siapa. Bisa jadi, sebenernya Allah udah kasih cobaan buat situ, cuma situnya nggak sadar-sadar. Orang yang kualitas imannya bagus, dia itu peka. Dia sadar kalau lagi dikasih cobaan, dan dia berusaha sesegera mungkin untuk memperbaiki diri. Dia tahu kalau Allah lagi ngingetin dia biar taubat lewat cobaan, dan dia segera taubat.

Contoh sederhanya bisa dilihat teman kita yang rajin shalat berjamaah. Ada kenalan saya juga, dia terbiasa shalat 5 waktu berjamaah. Suatu ketika, ternyata dia telat bangun shalat shubuh. Dan tahu apa yang ada di pikirannya? Dia berpikir, “Aduh, dosa apa ya yang bikin telat shalat shubuh.” Dia peka. Bahkan, lupa melakukan kebiasaan baiknya sekali saja, dia langsung instropeksi.

Sikap seperti inilah yang harus kita latih. Dimulai dengan taat beribadah. InsyaAllah kepekaan itu akan hadir sendiri dalam diri kita. Kita akan semakin cepat sadar bahwa ketika Allah memberikan cobaan, maka itu isyarat dari Allah agar kita kembali berdekatan dengan-Nya.

Advertisements