Suatu waktu, saya sedang menjalani tugas sebagai pemimpin di salah satu tim. Dan waktu itu sedang ada masalah berat yang menimpa saya. Teman-teman yang saya pimpin, dan orang-orang yang saya percaya dalam tim itu, ternyata tidak bergerak sesuai dengan harapan saya. Sulit untuk berkumpul rapat, sulit untuk bergerak cepat, dan lain sebagainya. Pada waktu itu, saya sudah mengerahkan pikiran saya untuk tim itu dan tugas yang akan kita garap. Saya yang mengusulkan waktu rapat dan hadir paling awal, bahkan sampai yang menyiapkan tempat rapat. Saya yang memikirkan pembagian tugas. Saya yang menyelesaikan tugas yang diberikan paling awal ketika deadline. Saya menjadi seperti bekerja sendiri. Itu jadi kayak I’m a single-fighter leader. Pusing saya. Kecewa juga dengan tim itu. Akhirnya saya jadi agak acuh sama tim itu.

Di saat-saat pusing itu, saya meminta konsultasi ke salah satu kakak saya. Kita janjian ketemuan di sebuah mushola. Singkat cerita, ketemuan lah kita. Akhirnya saya mulai curhat. Harapan saya mah kakak saya ini membenarkan sikap saya, membenarkan persepsi saya tentang orang lain di tim itu yang salah, dan nyabar-nyabarin saya gitu. Eh, ternyata selesai curhat tentang masalah saya ke beliau, saya malah ‘disemprot’. Ditegur habis-habisan. Diomelin sana sini, ditanya-tanyain kredibilitas sebagai pemimpin, dan sebagainya. Kan makin emosi ya saya. Tapi udah, curhat itu berakhir dengan teguran, dan kesimpulannya adalah “saya yang salah”.

Makin baper kan ya begitu, kayak ditampar bolak-balik rasanya. Tapi di satu sisi saya sadar, kalau ibarat masalah itu penyakit, seringkali obatnya itu pahit, ngga manis kayak sirup. Ngga selamanya yang manis itu baik, kita ternyata butuh pil-pil pahit untuk mengobati kita. Saya sadar banget, di balik omelan dan teguran kakak saya itu, banyak banget pesan yang membuka pikiran saya. Mulai dari sikap terhadap teman, sikap sebagai pemimpin, nilai-nilai moral, dan lain sebagainya. Dan, alhamdulillah itu berdampak baik untuk saya dan tim itu.

Teman-teman, mungkin dari kalian udah ada yang pernah ngalamin. Tapi mungkin ada juga yang belum. Buat kalian yang belum, ini ada sebuah pesan, suatu saat kalian akan menemukan sebuah momen dimana kalian lagi di puncak emosi dan mau meledak karena sebuah masalah, dan kalian butuh masukan untuk menyelesaikan masalah itu, tetiba Allah ngirimin orang, bukan untuk menghibur kita, tapi justru negur kita dan bikin kita lebih emosi. Ketika kalian ketemu momen itu, saran saya, segera pakai akal sehat untuk mencerna teguran yang tadi dikasih. Kalian ternyata mungkin akan nemu banyak solusi untuk masalah kalian. Dan tanpa sadar, mungkin kalian akan sangat berterima kasih kepada orang yang udah negur kalian pas emosi tadi. Sekali lagi, banyak penyakit itu obatnya pahit.

Ketika ada masalah, apalagi dengan orang lain, sering kita minta pendapat orang untuk membenarkan sikap kita, dan menyalahkan orang lain itu. Sekilas itu akan melegakan kita, tapi itu tidak mendidik, sangat tidak mendidik. Kita lah yang harus berubah untuk menyelesaikan masalah itu. Seringkali kita lah yang harus memulai maaf, padahal bukan kita yang salah. Tapi itulah kedewasaan. If the problem is always someone else, you will never ever grow up. But, if the problem is you, you will change yourself and always improved. Koreksilah diri sendiri atas masalah yang menimpa kita.

Have a nice day.

Advertisements